
Banda Aceh, 14 Agustus 2025 — Departemen Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Syiah Kuala (USK) menjalin kerja sama akademik dengan Pusat Sains Kemanusiaan Universiti Malaysia Pahang Al-Sultan Abdullah (UMPSA) melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Pengembangan Konten Pembelajaran Terkait Batu Nisan Aceh“. Penandatanganan kerjasama dilakukan oleh bapak Dr. Drs. Syamsulrizal, M.Kes (Dekan FKIP USK) dan bapak Dr. Mohamad Hilmi Bin Mat Said (Kepala Pusat Sains Kemanusiaan Universitas Malaysia Pahang Al-Sultan Abdullah. Kegiatan ini juga dihadiri Wakil Dekan 1 bapak Dr. Sanusi, S.Pd., M.Si, Wakil Dekan 3 bapak Drs. Abu Bakar M.Si, Ketua Departemen Pendidikan Sejarah ibu Nurasiah, S.Pd., M.Pd, Prof. Husaini (peneliti/arekolog Aceh), dosen-dosen Departemen Pendidikan Sejarah, serta mahasiswa.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya kolaboratif lintas negara dalam memperdalam kajian sejarah dan arkeologi maritim Asia Tenggara, khususnya yang berkaitan dengan peninggalan batu nisan Islam abad pertengahan di kawasan Aceh dan Semenanjung Malaya.
Dalam diskusi tersebut, para akademisi dari kedua institusi membahas temuan penting terkait kesamaan antara batu nisan yang ditemukan di Pahang dengan batu nisan di Aceh. Hasil kajian menunjukkan bahwa batu nisan di Pahang merupakan salah satu yang tertua di Malaysia, dengan corak dan tipologi yang menunjukkan kemiripan kuat dengan batu nisan khas Aceh, terutama dalam aspek bentuk, inskripsi kaligrafi, serta motif hiasnya.
Kerja sama ini tidak hanya berfokus pada penelitian arkeologis, tetapi juga diarahkan untuk pengembangan konten pembelajaran di lingkungan Departemen Pendidikan Sejarah USK. Hasil FGD akan diintegrasikan ke dalam beberapa mata kuliah, diantaranya Sejarah Indonesia Masa Islam, Dasar-dasar Arkeologi, Sejarah Aceh Klasik, dll.

Ketua Departemen Pendidikan Sejarah FKIP USK, Nurasiah, S.Pd., M.Pd, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah nyata dalam menghubungkan hasil penelitian lapangan dengan proses pembelajaran. “Melalui kerja sama ini, mahasiswa dapat mempelajari sejarah bukan hanya dari teks, tetapi juga dari artefak yang menjadi bukti nyata interaksi budaya dan penyebaran Islam di kawasan Asia Tenggara,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan dari Pusat Sains Kemanusiaan UMPSA menegaskan pentingnya kolaborasi antara Malaysia dan Indonesia dalam pelestarian warisan sejarah serumpun. “Batu nisan adalah saksi sejarah yang menghubungkan masa lalu kedua wilayah. Kolaborasi ini membuka peluang penelitian dan pembelajaran yang lebih luas di masa mendatang,” ungkapnya.

Dengan terlaksananya FGD ini, diharapkan kerja sama antara USK dan UMPSA dapat terus berkembang dalam bentuk penelitian bersama, pertukaran akademik, dan penguatan kurikulum berbasis warisan budaya kawasan
